SIAPA YANG BANYAK UANG, DIALAH YANG MENANG. DAN SIAPA YANG KUAT, DIALAH YANG BERKUASA


Terkadang saya berfikir melihat suasana di era sekarang ini bisa di katakan era yang sangat buas, di mana antar pejabat, kepolisian, hukum, Ulama' dan rakyat, saling bermusuhan, saling menerkam satu sama lain. Seakan-akan adu domba sudah kian marak, saling mencekam, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah kian menipis, tiap hari di suguhi berita yang tidak ada sdikitpun tentang pendidikan.

Apalagi situasi zaman yang serba modern canggih yang menuntut harus mengikuti ataupun harus melihatnya. Kegaduhan antar organisasi, institusi, maupun lembaga, parpol sudah tak bisa di jadi cerminan oleh rakyat. Pemimpinnya pun juga demikian, sudah tak bisa di jadikan panutan contoh kebaikan. Saya sendiri mencoba merenungi dari masalah satu ke masalah  yang ada, apakah Zaman kekuasaan Dajjal sudah mulai tampak? ..... .......atau emang manusianya yang sengaja mengundang murka dari tuhan? ....

Entahlah! saya juga gak tahu persis apa permasalahannya, yang jelas masyarakat saat ini merasakan kecemasan yang luar biasa, kekhawatiran yang tidak nyaman dalam bermasyarakat, baik ancaman dari luar maupun dari dalam. Rakyat selalu di jadikan umpan sebagai ajang proyek bisnis, semua pejabat pemerintah sedikit sedikit atas nama nama rakyat. Sedangkan rakyat mengalami kecemasan. Di mana kecemasan itu akan merembet ke anak cucu kita, bukan takut atas kecemasan soal pemerintahan, tetapi yang di khawatirkan kecemasan itu, adalah kualitas iman dan prinsip pegangan hidup, ini bisa keluar masuk, alias hilang nya sifat dan karakter menjadi orang baik.

Banyak kalangan masyarakat dari budayawan sampe tokoh masyarakat (Ulama') mengatakan: "Indonesia sekarang ini seperti tidak ada pemimpinnya, hanya di pegang kendali oleh para Geng yang mempunyai banyak uang, baik para pejabatnya dari presiden, kebawah, kepolisian, hukum dan bahkan undang-undangnya sudah di beli oleh pengusaha, mereka tinggal pencet tombol, langsung tunduk di hadapannya. Sesekali mereka marah, terjadilah keributan, kegaduhan di institusi maupun lembaga pemerintahan, dan saling menerkam antar hukum, kepolisian dan Ulama'. Sehingga finisnya adalah kebrutalan dalam beretika atau berfikir, dan ke'egoisan dalam menjalani kehidupan. Dengan "Semboyan siapa yang banyak uang dialah yang menang, dan siapa yang kuat dialah yang berkuasa" .

Hampir setiap orang inginnya di akui oleh masyarakat, biar di hormati, di segani. terkadang untuk mendapatkan sesuatu mereka berani berkorban, meskipun harus dengan cara menipu, culas dan curang.
Kata Ronggo Warsito dalam filusufnya; "Ono udan salah mongso" artinya wektunya musim kemarau malah hujan, atau sebaliknya waktunya musim hujan, malah kemarau.
Arti yang lain,
Akeh wong ora pantes dadi pemimpin, malah dadi pemimpin, sing pantes dadi pemipin malah minder.
Akeh wong bodo ngaku pinter, sing wong pinter malah keblinger.
Akeh mesjid, mestinya buat ibadah, malah di buat rekreasi.
Kyai dan ulama' , hanya untuk tanggapan dan di jadikan ocehan.
Tempat madrasah pendidikan agama sudah tidak ada lagi peminatnya.
Dan  intinya banyak ahli dunia menjual atas nama agama, hanya demi mendapatkan rupiah.
_______________