HARI SANTRI Adalah HARI PRASASTI SEJARAH


Aku berharap khususnya bagi santri jangan merasa bangga menjadi santri, dan jangan merasa paling baik dan merasa paling top. Karena santri itu hanya sebutan. Sbenernya munculnya hari santri saya pribadi kurang setuju, kalo kita memahami kata santri, maka kita akan malu menyebut diri kita santri.
Aku juga gak tahu hari santri ide nya siapa, dan siapa yang mengusulkan, sehingga di tetapkan sebagai hari santri Nasional. Kalo saya pribadi gak usah ada santri, karena sudah ada Hari Pahlawan.

Kalo hari santri , itu sama saja kita memposisikan diri sebagai hari orang baik, dan saya sendiri sedikit khawatir akan terjadi kecemburuan sosial di mata masyarakat tentang masalah hari. Misalnya hari hari yang baru.
Ada hari buruh, padahal kita tiap hari dah buruh,
Ada hari ibu, padahal kita sudah tiap hari manggil ibu,
Ada hari santri, padahal kita sudah santri.
Ada hari mahasiswa, padahal kita dah mahasiswa.

Pertanyaannya bagaimana nanti kalo ada hari baru lagi, sperti
Hari bapak, hari pengangguran,(karena belum punya pekerjaan) dan ada hari abangan karena ada yang merasa tidak santri!
Ini yang menjadikan kecemburuan sosial tentang status prinsip maupun pemahaman.
Ini sama aja mengkotak-kotakkan masyarakat, ada kaum ini, kaum itu, ibarat masyarakat kita di potong potong dan di iris iris. Dan perkara sepele ini kita mudah di adu domba antara satu dengan yang lain.

Ohya masih ingatkah ngendikane imam Syafi'i , "Aku ini bukan termasuk orang sholih, tetapi aku mencintai orang sholih, siapa tahu dengan mencintai orang sholih, saya dapat barokah jaya syafaat dari orang sholih".
Imam syafi'i aja pada zamannya si sebut sebagai sultonul-Ulama', tidak berani mengaku orang sholih.
Smentara kita sudah berani mengaku sebagai santri, padahal santri itu sendiri menurut pandangan masyarakat sebagai orang baik, ramah, dan akhlaq yang indah, bahkan mempunyai kematangan ilmu agama, dan ilmu keluhuran Budi.

Bagi saya mau Hari santri, atau hari Kyai, silahkan, yang jelas kita harus menjaga etika sosial dalam masyarakat, baik tatanan hidup di kemudian hari.
Ya paling jelas, kita jangan merasa lebih baik, jangan sok ke-GR an, karena pada dasarnya hari santri sudah di abadikan sejak masa pra penjajahan, tapi di bungkus dengan bahasa budaya, atau di sebut hari PAHLAWAN, tiap tgl 10 november, yang dulu di sebut peperangan besar di surabaya, yg di komandoni oleh santri Qomarudin, yaitu ksatria / tentara Janur Kuning.

Pada masa itu seluruh para santri dan para Kiyai suaranya menggema di seluruh jagad bumi pertiwi, karena mereka tidak mau memperlihatkan perjuangannya, saking tawadlu'-nya para kiyai dan santri, maka mereka mengganti subutan "Hari  Pahlawan" atau tentara santri tak di kenal, maka dari itu, seluruh pejuang indonesia adalah para santri santri dan kyai, mereka merebut kembali negri kita, dari kungkungan bangsa penjajah, mereka adalah ksatria nuswantoro yang di asuh oleh para Wali wali.


Masih ingat kata indah warisan Ulama' dahulu,  "Bersabarlah dan gagahlah bila engkau mengalami kekalahan, dan merendahkan jika engkau mengalami kemenangan".
Mereka adalah alumni peasantren seperti imam bonjol, diponegoro, patimura, cut nyak diean, Hadrotus syaikh kh Hasyim As'ari,  Qomaruddin, khoiril anwar, semuanya adalah godokan dari pendidikan pesantren, bukan dari jebolan pendidikan formal, bukan dari Perguruan Tinggi, bukan sarjana, bukan doktor dan profesor, yg sok pamer gelar. karena saat itu belum ada sekolahan sperti skrang ini.


Lambat laun pemerintah merampasnya, mereka juga merampas pendidikan2 yg ada di peasantren, sehingga banyak madarasah2 menjadi Negri, sehingga peran pendidikan ulama'  pada masa sekarang ini di hilangkan  dan di remehkan.

Masihkah menghina pendidkan pesantren?....
Masihkah kita meremehkan kyai dan para ulama'?.......


Pada dasarnya para ulama' , kyai dan para wali mendidik anak negeri bukan sekedar mentransfer ilmu saja, tetapi lebih dari itu, beliau ini juga mentransfer adabiyah dan mental, tidak pasrah dengan nasib. Mereka bisa di bilang pakunya negara, yang melebihi sebutan negarawan. Maka dari itu jangan heran bila seorang kyai mempunyai pengaruh besar di mata masyarakat luas, baik dalam babakan ilmiyah maupun kwalitas prinsipnya. Seandainya di negri ini tidak ada seorang kyai, mungkin negri Indonesia ini masih belenggu Rante penjajah. Hampir seluruh tentara Indonesia waktu itu adalah seorang santri, karena zaman penjajah belum ada pendidikan militer sperti medel pendidikan sekarang ini.

Klo kita telusuri secara mendalam pesantren bukan di ajari ilmu saja, tetapi juga di ajari tentang bagaimana cara berjihad melawan kaum penindas, dan kaum penjajah. Melawan di sini bukan termasuk sebagai "BUGHOT" atau pemberontak, tetapi ini sebagai bukti perlawanan ketika ada orang kecil yang di dholimi. Maka kita wajib melawan untuk melindungi diri dan harta kita bila di rampas oleh begal dan perampok.

Di situlah peran kyai dan para santri untuk maju di laga pertempuran melawan kaum penjajah, mereka hanya bermodalkan doa, kiyakinan yang kuat dengan membawa tombak yang terbuat dari bambu runcing yang di lincipi, sedangkan kaum penjajah membawa bedil, senapan dan meriam, dengan alat tersebut bisa membunuh dengan jarak jauh. Secara akal ini mustahil akan menang. Tetapi sang maha kuasa berkehendak lain. Ini lah "Fadli minallah".
___________

###########
Di renungi dw

Jogjakarta / Kamis / 22 / Oktober / 2015
Lek Son bocah ingusan.
@@@@@@@@@@@@@